Oleh: Siti Nur Afia, Amd.,Farm
Bencana banjir kembali melanda wilayah Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Tercatat hingga tanggal 12 juni sudah 4.095 jiwa mengungsi dan dalam keadaan yang sulit untuk mengakses bantuan pangan maupun logistik. (kendaripos.co.id).
Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tenggara (Sultra) Lukman Abunawas menyebut kegiatan pertambangan dan kerusakan lingkungan menjadi penyebab banjir bandang yang melumpuhkan Kabupaten Konawe Utara (Konut), menurutnya sejak menjadi daerah otonomi baru (DOB) banjir kali ini adalah banjir terparah yang meluas hingga 6 kecamatan (zonasultra.com).
Berdasarkan data Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sultra, ada puluhan perusahaan tambang beroperasi di otoritas Ruksami-Raup tersebut. Tanah yang digarap juga cukup luas bisa sampai puluhan ribu hektar.
Beberapa diantaranya, PT Elit Hanisma Utama yang berlokasi di Lasolo dan Langgikima luas area garapan mencapai 496 hektar. Ada juga PT Nusantara Konawe Nikel yang beroperan di Lasolo dan Langgikima, luas area garapan mencapai 3.73 hektar. PT Cipta Jaya lebih luas lagi garapannya mencapai 3.029 hektar, lokasinya di Molere dan Langgikima. Semua titik yang menjadi lokasi pertambangan terdampak banjir.
Sementara itu legislator asal Sultra Ridwan Bae juga menyoroti bencana yang terjadi di Sultra saat ini. Menurutnya pemerintah harus bertanggung jawab atas sejumlah kebijakan dan harus segera turun menangani “Disanakan ada perkebunan dan pertambangan saya curiga penyebab banjir bersumber dari dua sektor tersebut,” katanya. Anggota komisi V DPR RI itu mengingatkan jangan sampai pengusaha tambang dan sawit mendapat keuntungan, sedangkan masyarakat kena dampaknya. ’’Kalau dibiarkan ini seperti menambah bencana. Sangat berbahaya, kasihan masyarakat’’ tegasnya.
Namun fakta yang terjadi memang seperti itu, pemerintah lebih condong kepada para pengusaha tambang daripada masyarakat sendiri. Apalagi saat ini Indonesia terkungkung oleh sistem kapitalis yang mana sistem kapitalis memandang bahwa segala sesuatu diukur dari materi yang dapat menghasilkan sebuah manfaat atau keuntungan bagi mereka.
Sehingga ketika ada sumber daya alam yang dapat menghasilkan keuntungan maka mereka akan memanfaatkanya secara besar-besaran tanpa memperdulikan akibatnya. Paham kebebasan kepemilikan telah membuat penguasa memperbolehkan penguasa lokal maupun asing untuk mengeksporkan kekayaan sumber daya alam (SDA), tentu mereka berharap mendapatkan pajak dan sita.
Disini pemerintah memperlihatkan betapa tidak pedulinya mereka terhadap kepentingan maasyarakatnya. Mereka seakan-akan sibuk dengan diri mereka sendiri untuk memperkaya diri, sehingga dengan suka rela menyerahkan pengolahan sumber daya alam (SDA) kepada asing, mereka tidak mempedulikan ketika nanti lingkunganya akan rusak. Karena yang merasakan dampaknya adalah rakyat. Ketika bencana itu datang, bantuan seakan-akan dipersulit oleh pemerintah, inilah salah satu tidak pedulinya pemerintah terhadap masyarakatnya.
Sehingga sangat jelas bahwa bagaimana keserakahan mereka, sehingga mereka memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dengan sangat liar tanpa memperdulikan aturan. Hanya memikirkan keuntungan, materi manfaat dari itu semua, akibatnya bencana pun datang seperti banjir yang menyebabkan kerugian, yang tidak hanya harta saja kerugian yang didapat tetapi jiwa manusia itu sendiri. Padahal Allah Swt telah memperingatkan “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia Allah menghendaki agar mereka merasakan pembagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Maka dengan adanya banjir bandang yang terjadi yang disebabkan oleh keserakahan manusia, maka hal ini sebuah teguran dari sang pemilik kekuasaan yaitu Allah Swt agar kita lebih baik lagi dan menjadikan kita untuk berbenah dan kembali kepada aturan yang berasal dari Allah sang pencipta manusia dan alam semesta.
Islam sebagai agama yang sempurna tidak membiarkan eksploitasi tambang berlebih, pengelolaan tambang diurusi oleh negara dengan memperhatikan berbagai kelestarian lingkungan disekitar, baik itu manusia, hewan, dan tumbuhan. Hasil pengelolaan tambang diperuntukan demi kesejahteraan rakyatnya, mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sehingga pengelolaan tambang dalam Islam tidak menzalimi siapapun.
Sehingga solusi satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini hanyalah Islam. Karena Islam merupakan rahmat untuk seluruh alam, Islam dalam naungan khilafah tentu memiliki kebijakan yang efektif dan efisien. Wallahu’alam Bisshawab.














Komentar