Oleh: Risnawati (Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)
Bendera tauhid menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Semenjak adanya kasus pengibaran bendera tauhid lagi di MAN 1 Sukabumi. Seolah menunjukkan bukti bahwa di hati umat masih ada kerinduan dalam memperjuangkan kalimat Tauhid.
Dilansir dari detikcom, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) melakukan investigasi terkait foto siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Sukabumi yang mengibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid di halaman sekolah. Kemenag menegaskan pengibaran bendera tersebut tak terkait dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Investigasi dilakukan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ahmad Umar berdasarkan arahan dari Menag Lukman Hakim Saifuddin. Tim melakukan konfirmasi dan verifikasi atas informasi yang beredar di media sosial.
“Berdasarkan penjelasan mereka dan keterangan sejumlah pihak, untuk sementara kami berkesimpulan bahwa tidak ada indikasi keterkaitan dengan HTI,” kata Umar dalam keterangan tertulis, Minggu (21/7/2019).
Umar mengatakan kejadian pengibaran ini disebabkan ketidakmengertian siswa terhadap penggunaan bendera mirip HTI. Bendera itu, menurut Umar, dikibarkan dalam promosi kegiatan sesuai program pengenalan siswa baru.
Menurut Umar, para siswa tersebut ingin menarik siswa baru untuk ikut ekskul keagamaan di madrasah itu.
“Namun demikian, kami masih terus melakukan penelusuran untuk mendapatkan data lebih komprehensif. Jika ternyata ditemukan unsur pidana, kami serahkan kepada penegak hukum,” ujarnya.
Selain itu, sambung Umar, tim juga memberikan pembinaan kepada para siswa dan guru MAN 1 Sukabumi. Mereka juga menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen patuh pembinaan Kemenag.
“Tadi disepakati juga bahwa Kepala Kankemenag Sukabumi akan segera melakukan pembinaan ke seluruh madrasah setempat agar tidak terjadi kasus serupa serta tidak terpapar paham ekstrem dan pengaruh ormas terlarang,” ujarnya.
Kedudukan Bendera Tauhid dalam Islam
Di dalam Sirah Nabawiyah, bendera tauhid ini diperjuangkan mati-matian oleh para sahabat di peperangan di masa itu. Dan bendera ini bertuliskan kalimat yang paling mulia serta simbol persatuan umat Islam. Ini adalah momen yang tepat untuk kembali memberikan penjelasan tentang bendera Rasulullah yang bernama Al-Liwa dan Ar-Rayyah tersebut.
Bendera dan panji, menempati posisi yang agung sebagai simbol suatu negara, begitu pula bagi Rasulullah saw sebagai pemimpin Negara Islam pertama di Madinah Al-Munawwarah. Hal itu dibuktikan dalil-dalil sunnah dan atsar, dirinci penjelasannya oleh para ulama mu’tabar. Para ulama dari masa ke masa senantiasa mengulas bendera dan panji yang dijuluki Al-Liwa dan Ar-Rayah ini, berikut karakteristik, kedudukan dan fungsinya yang sangat istimewa.
Saat ini kaum Muslim dihadapkan pada upaya mungkar, stigmatisasi negatif dan kriminalisasi panji Al-Liwa dan Ar-Rayah dan para pengembannya. Bagaimana mendudukkan Al-Liwa dan Ar-Rayah sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat bersikap?
Al-Liwa dan Ar-Rayah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah saw. Secara bahasa, keduanya berkonotasi Al ‘Alam (bendera). Secara syar’i, Al-Liwa (jamaknya : Al-Alwiyah) dinamakan pula Ar-Rayah Al-‘Azhimah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin, yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (amir Al-Jaisy) yakni Khalifah itu sendiri, atau orang yang menerima mandat dari Khalifah, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam : “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah” berjumlah satu.
Sedangkan Ar-Rayah (jamaknya : Ar-rayat), ia adalah panji (Al-‘Alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”, dinamakan pula Al-‘Uqab.
Ar-Rayah berukuran lebih kecil daripada Al-Liwa dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (kata’ib), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.
Dalil-Dalil Al-Liwa & Ar-Rayah
Banyak dalil-dalil sunnah dan atsar yang menjelaskan tentang Al-Liwa dan Ar-Rayah, diantaranya dari Ibnu ‘Abbas ra : “Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)
Dari Ibnu ‘Abbas ra : “Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)
Dari Jabir bin Abdullah ra : “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam liwa’-nya pada hari penaklukkan Kota Mekkah berwarna putih.” (HR. Ibn Majah, Al-Hakim, Ibn Hibban)
Dari Yunus bin Ubaid maula Muhammad bin Al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang rayah Rasulullah saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab : “(Ar-Rayah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR. At-Tirmidzi, Al-Baghawi, An-Nasa’i)
Dari Al-Hasan ra, ia berkata : “Rayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam disebut Al-‘Uqab.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Dengan demikian, dalil-dalil di atas secara sharih menisbatkan bendera dan panji dengan karakteristiknya yang istimewa kepada Rasulullah saw. Maka tidak mengherankan jika para ulama hadits bahkan menuliskan satu sub bab khusus berkenaan dengan Al-Liwa dan Ar-Rayah diantaranya: Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya; Ibnu Majah dalam Sunan-nya; At-Tirmidzi dalam Sunan-nya; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Dan yang lainnya, yang cukup menunjukkan keberadaan bendera dan panji istimewa Rasulullah saw.
Alhasil, Daulah Islam setelah Khulafaur Rasyidun terlepas dari benar dan tidaknya sistem dan kepemimpinannya menurut catatan sejarah juga menggunakan ‘liwā’ (warna putih) dan ‘rāyah’ (warna hitam). Sebagai contoh, Daulah Umayyah menggunakan bendera warna putih. Sementara Daulah Abbasiyah menggunakan warna hitam. Bahkan Dinasti Fathimiyah pun menggunakan bendera warna putih.
Dari pembahasan diatas, jelaslah bahwa bendera Rasulullah saw betul-betul wujud dan begitu penting nilainya. Selain sebagai simbol persatuan umat pada satu pimpinan saat damai, ia juga menjadi faktor yang bisa menaikkan mental umat dalam medan juangnya. Maka disayangkan ketika ada bendera tauhid dikibarkan lagi, justru memicu kemarahan rezim makin berkobar. Ada apa? Wallahu a’lam.










Komentar