Oleh: Ani Hadianti, SKM (Pemerhati masalah sosial Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Atas nama hak asasi manusia (HAM), setiap orang berhak melakukan apa saja sesuka hati. Dalih kebebasan pun dijadikan standar perbuatan.
Hal yang dianggap tabu, sudah tak ada lagi. Pesta, yang dulu hanya digunakan untuk acara perayaan sakral, pernikahan, HAUL, ataupun walimahan, kini sudah bertambah fungsi, pesta narkoba, pesta lajang (kaum sejenis), bahkan hingga pesta mesum pasutri beberapa waktu lalu di Surabaya. Ini bukan kali pertama kasus pesta mesum ditemukan. Bahkan kali ini sangat miris pasutri yang terlibat pesta bisa bertukar istri.(18/07/2019.jambiseru.com)
Ironi memang, kaum dewasa yang harus menjadi teladan bagi generasi dan anak-anak, juga memiliki tugas menyelamatkan generasi dari kehancuran akibat gaya hidup bebas.
Gaya hidup kebebasan hari ini sudah begitu luar biasa, mengisi ruang-ruang kehidupan umat islam. Mulai dari kehidupan pribadi hingga berbangsa dan bernegara. Hari ini pergaulan sangat bebas, pendidikan pun diarahkan pada kebebasan berekspresi atas nama inovasi, kreatifitas generasi milenial.
Sesungguhnya pola pikir liberalisme yang menjauhkan umat ini dari aturan Ilahi, bahkan cenderung alergi bukan hanya tidak butuh aturan dari Ilahi begitu luar biasa merebak di negeri ini, bukan hanya di media tetapi juga dalam materi ajar di sekolah pun kebebasan ditanamkan.
Inilah buah sekulerisme menghasilkan kebebasan tanpa batas. Bebas berekspresi, bebas berbuat, bebas berbicara, bebas memiliki apa saja, bahkan bebas beragama. Padahal sudah terbukti semua kebebasan itu tidak berakhir manis ‘happy ending’ justru berakhir malapetaka, menghancurkan peradaban manusia.
Perzinahan merajalela, seks bebas, lesbianism, homoseks, pelacuran dsb. Berdampak pada rusaknya rumah tangga, dan generasi. Semua merusak hubungan sosial masyarakat.
Belum lagi merebaknya penyakit menulaar seksual akibat hubunngan seks bebas. Semua bersumber dari ide sesat buatan akal manusia. Ini baru satu sisi kebebasan, belum sisi kebebasan yang lainnya.
Sungguh, semua itu hanya bisa dihentikan dengan kekuatan ideologi global. Islam satu-satunya wahyu dari Sang Pencipta saja yang bisa menyelamatkan umat manusia. Syariat Islam adalah tatanan kehidupan global terbaik dan sempurna yang mampu menjaga kehormatan keluarga, menyelamatkan generasi dengan peradaaban terbaik.
Fakta sejarah membuktikan kejaayaan Islam pada masa penerapan hukum-hukum syariatNya di seluruh aspek kehidupaan. Dunia tidak menyangkal kehebatan seorang Harun ArRasyid, Muhammad AlFatih, King Sulaiman, AlKharizmi, Avicenna, dsb. Mereka semua adalah generasi yang lahir bukan dari bumi yang mengusung pola kebebasan.










Komentar