Faktor Kunci Keberhasilan Upsus Pajale

Opini913 views
Padillah

Swasembada pangan merupakan harapan kita bersama. Saat ini program upsus pajale sudah menunjukkan pencapaiannya dengan produksi padi mencapai 75,55 juta ton GKG dan target tersebut lebih tinggi dari target rencana strategis 2015-2019 yaitu 73,40 juta ton GKG. Inilah rekor produksi padi tertinggi dalam 10 tahun terakhir (Kementan 2016).

Swasembada pangan berarti kita mampu untuk mengadakan sendiri kebutuhan pangan dengan bermacam-macam kegiatan yang dapat menghasilkan kebutuhan masyarakat Indonesia dengan kemampuan yang dimiliki dan pengetahuan lebih yang dapat menjalankan kegiatan ekonomi tersebut terutama di bidang kebutuhan pangan. Upaya khusus (upsus) padi, jagung, dan kedelai (pajale) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan produktivitas serta pencapaian swasembada pangan berkelanjutan yang harus dicapai dalam kurun waktu 3 tahun. Seluruh kegiatan yang tergabung dalam kegiatan ini di danai dari Dana APBN-P Ditjen Prasarana dan Sarana.

Kebutuhan konsumsi pangan saat ini semakin meningkat. Hal ini merupakan dampak dari semakin bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya lahan pertanian/sawah sebagai akibat dari terjadinya alih fungsi lahan untuk kepentingan pembangunan. Beras adalah sumber karbohidrat pertama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Saat ini banyak masyarakat dibeberapa daerah yang beralih dari mengkonsumsi ubi, jagung, sagu ke beras, sedangkan daerah tersebut produksi padinya belum mencukupi dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut ‘beras’ didatangkan dari luar daerah. Oleh sebab itu setiap daerah harus mampu memenuhi konsumsi lokal daerahnya masing-masing.

Tercapainya produksi padi merupakan serangkaian kerja sama antara pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tetapi tentunya tidak terlepas dari peranan penyuluh yang bersentuhan langsung dengan petani. Pemerintah memposisikan penyuluh sebagai faktor kunci. Layaknya faktor kunci dalam sukses pembangunan pertanian jika ia tidak berperan maka faktor kunci yang lain akan sulit untuk bergerak. Selain itu, juga didukung oleh faktor penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, penerapan jarak tanam jajar legowo, konsisten kalender tanam, mekanisasi serta perluasan areal.

Peranan penyuluh dalam program upsus dibantu oleh mahasiswa dan babinsa. Seorang penyuluh dibantu oleh mahasiswa dalam melaksanakan pendampingan terutama pada penerapan teknologi dan inovasi peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai. Sedangkan, babinsa pada kegiatan ini diikutsertakan dalam: pertama, menggerakkan dan memotivasi petani untuk melaksanakan: tanam serentak, perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi, gerakan pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dan panen; kedua, melaksanakan dukungan dalam keadaan tertentu untuk: penyaluran benih, pupuk dan alsintan, infrastruktur jaringan irigasi; ketiga, melaksanakan pengawasan terhadap pemberkasan administrasi dan penyaluran bantuan kepada penerima manfaat; dan keempat melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan identifikasi, pendataan dan pelaporan teknis pelaksanaan kegiatan. Babinsa dalam kegiatan ini sudah bekerjasama dengan baik dan saling mendukung demi tercapainya swasembada pangan, terbukti dari pencapaian produksi padi yang meningkat.

Pada UU No. 16 tahun 2006 mengenai fungsi penyuluh pertanian ialah sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran, mempermudah akses informasi dan teknologi, pengembangan kemampuan kepemimpinan, menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan mengembangkan organisasinya sehingga memiliki daya saing. Untuk mewujudkan itu semua peran serta dan keterlibatan penyuluh di lapangan tentu sangat dibutuhkan, sejarah telah membuktikan hasil gemilang atas program dan motivasi yang tinggi serta kerja keras para penyuluh dalam mendukung keberhasilan pembangunan pertanian, yang telah mengantarkan bangsa Indonesia dalam pencapaian swasembada beras pada tahun 1984.

Faktor kepercayaan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat seperti halnya penyuluh dan pelaku utama. Dengan saling percaya orang bisa bekerja sama karena kesediaan mereka mementingkan kepentingan kelompoknya. Penyuluh selama ini telah banyak mengajarkan pengetahuan, keterampilan, mendampingi, dan membantu memecahkan masalah yang hadapi oleh petani dan kehadiran penyuluh di lapangan selalu mendapat respon yang positif.

Seorang penyuluh harus menerapkan indikator kinerja secara utuh terutama unsur-unsur; mendisemilasikan informasi teknologi (penggunaan metode penyuluhan pertanian yang tepat), memberdayakan dan memandirikan pelaku utama, menjalin kemitraan usaha dengan unsur-unsur terkait yang dapat mendukung suksesnya usahatani, mewujudkan akses pelaku utama ke lembaga keuangan, sumber-sumber informasi, sarana produksi dan pemasaran hasil, responsivitas, kualitas, efisiensi dan efektivitas penyuluh pertanian.

Faktor pendukung untuk meningkatkan kinerja penyuluh misalnya adanya insentif dalam bentuk piagam penghargaan, kepercayaan petani terhadap penyuluh pertanian dan proses kenaikan pangkat (kepangkatan), namun demikian tidak dapat dipungkiri adanya  beberapa faktor penghambatlainnya seperti pembinaan karier, tingkat kepercayaan penyuluh terhadap kebijakan organisasi, kejelasan tugas/wewenang, dan rasio penyuluh dengan jumlah desa/kelurahan binaan.

O l e h :

Padillah
Mahasiswa Program Magister Ilmu Penyuluhan Pembangunan
Fakultas Ekologi Manusia IPB

Komentar