Generasi Radikal yang Bermoral

Opini358 views

Oleh: Masitah (Anggota Smart With Islam Kolaka)

Sultrakini.com – Melebarnya pemahaman radikalisme membuat sejumlah elemen masyarakat menyuarakan pentingnya pemahaman tentang kenegaraan pada generasi muda. Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. KH Aang Anwar Mujahid, mengatakan generasi muda perlu dibekali nilai-nilai nasionalisme sejak dini, agar menghindarkan mereka dari paham yang menyesatkan. “Setelah masa orde baru dibubarkan, paham anak-anak menjadi kering tentang kepancasilaan, tata kenegaraan, dasar negara, dan sebagainya, sangat penting sejak dini dari SD hingga seterusnya anak-anak dibekali nilai-nilai pancasila, dasar-dasar negara, NKRI, karena negara ini sangat heterogen,” ujar Aang Anwar Mujahid dalam Forum Group Discussion bertemakan Peran Strategis Lembaga Pendidikan dan Ormas Islam dalam Menangkal Paham Radikal dan Anti Pancasila di Sultra di Zenith Hotel Kendari, Senin (18/2/2019).

Dir Binmas Polda Sultra, Kombes Pol Drs. Erfan Prasetyo mengatakan bahwa bahaya paham radikal masih  terbilang aman untuk wilayah Sultra. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sultra, Drs. H. Andi Mukhtar M.Si, organisasi masyarakat (ormas) islam turut berperan aktif. “Peran lembaga pendidikan dan ormas islam, sesungguhnya harus dimulai dari regulasi yang mengatur dan perlunya dikembalikan pelajaran pancasila di sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, SMP, dan seterusnya,” terang Andi Mukhtar.

Menelusuri Akar Masalahnya

Generasi muda memang saat ini tengah dihantui bayang-bayang antara kebenaran dan kebathilan, mereka menjadi sasaran yang paling pas untuk menentukan masa depan. Ditengah era milenial ini pasalnya mereka justru leluasa mendapatkan kebebasan apapun yang diinginkan, ditambah dengan adanya lembaga perlindungan anak atau lembaga HAM yang tersedia membuat mereka tak takut. Dilengkapi dengan undang-undang dasar yang mengatur pula, yang dapat melindungi mereka di bawah payung hukum suatu bangsa. Dengan adanya berbagai macam kebebasan yang tersedia justru membuka peluang masuknya paham-paham atau ajaran menyimpang. Salah satunya yaitu paham radikalisme.

Radikalisme sendiri menurut KBBI artinya paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dengan banyaknya kasus yang terjadi di negeri ini yang menyudutkan ajaran agama tertentu membuat pemerintah bergerak massif dalam menahan laju penyebarannya. Sebut saja ajaran islam yang berupa “Khilafah” menjadi titik yang harus dihapuskan dan tak boleh sampai pada telinga generasi muda sekarang. Bukan hanya itu saja berbagai steatment buruk tentang ajaran Islam pun disematkan, seperti cadar, berjanggut panjang, celana cingkrang, dan sebagainya, yang dianggap sebagai kelompok berbahaya yang hanya akan memecah belah bangsa.

Pemikiran generasi muda tengah di adu di masyarakat. Dengan keyakinan dirinya mereka harus bisa memecahkan problematika yang ada. Ada dua jalur yang harus dipilihnya, apakah berjalan dengan kepercayaan yang dianutnya (Islam) ataukah jalur milik orang lain yang dibuatnya sendiri? Jalur yang hanya membawa pada kesesatan belaka. Karena jika melihat dengan menggunakan kacamata dunia saja tak dapat dipungkiri setiap individu akan merasakan kebahagian berupa materi yang berlimpah tanpa bersusah payah memikirkan akhirat. Menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan kesenangan semu.

Dilengkapi dengan aturan yang memisahkan agama dari kehidupan, komplit dengan penawaran bermacam kebebasan, membuat generasi muda tak kan mampu untuk menolaknya. Ditambah kemodernan zaman sekarang membuaikan mereka dalam tidur yang panjang. Dengan racun nasionalisme yang mereka gaungkan, generasi muda pun berhasil masuk dalam lingkarannya dan menumbuh suburkan benih pemahaman aturannya.

Kapitalisme sebuah ide pemikiran milik orang barat yang berhasil menjadi asas dasar suatu negara yang ada. Mampu menyebar dengan sangat pesatnya, menjalar dengan gesitnya merusak pokok utama dari induknya. Janji-janji manis terus di tumbuh suburkan di kehidupan seperti yang terjadi pada sistem perbankan, yang membuat masyarakat justru mengalami kesengsaraan. Merusak generasi dengan sistem pendidikan yang ditawarkan dengan lebih mengembangkan paham-paham sesat miliknya, bahkan ajaran agama sedikit demi sedikit bisa terhapus. Dengan slogan melawan radikalisme yang menyebar mereka mampu menguasai pemikiran generasi untuk semakin jauh memisahkan agama dari kehidupannya.

Bahkan ormas islam yang ada menjadi di awasi, ceramah-ceramah yang dilakukan dipantau, bahkan para ustadznya pun di berikan panduan tentang batasan yang harus ia sampaikan. Ormas yang dianggap menyimpang pun segera disingkirkan dengan berbagai macam dalih untuk membungkam.

Kembali Kepada Islam

Sudah sepatutnya generasi muda sadar kembali pada fitrahnya ia diciptakan. Sejatinya mereka bisa melihat tentang kebenaran yang sesungguhnya, bukan justru balik ikut-ikutan memerangi ajaran agamanya sendiri. Bahkan dengan terang-terangan menolak dan membela serta memuja mati-matian kebudayaan dan pemikiran asing yang justru hanya merusak saja. Tipu muslihat yang dimainkan sudah seharusnya disingkirkan, saatnya generasi sadar dan bangun dari tidur yang panjang.

Islam merupakan seperangkat aturan yang mampu menjawab setiap problematika yang ada. Mampu mewujudkan generasi yang shahih seperti para pendahulu, Abu Bakar, Khalid bin Walid, Shalahuddin al ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan masih banyak lagi, yang senantiasa membela mati-matian ajaran islam tatkala Islam dikriminalkan bahkan dilecehkan. Islam memiliki bukti sejarah yang tak terbantahkan atas kegemilangannya saat menjadi sebuah Negara yang mempu menyatukan seluruh negeri yang ada, membuang jauh ajaran sesat, meluruskan setiap pemahaman yang menyimpang, bahkan menjadi perisai bagai Akidah umat.

Islam juga memiliki sumber hukum yang jelas yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bernegara sampai keluarga yang memiliki standar hukum yang jelas untuk setiap perbuatan manusia. Sehingga dapat menyatukan masyarakat dengan pemikiran, perasaan dan aturan yang sama sehingga tidak ada perbedaan yang dapat memicu perselisihan. Tak seperti paham Nasionalisme yang mereka gaungkan yang justru hanya menjadi mereka berskat-skat dibawah kendali penguasa dzalim yang silau akan harta dan jabatan.

Sudah saatnya generasi muda bangkit atas keterpurukan dan kebodohan yang terus menjalar dalam dirinya, dengan belajar dan memahami eksistensi agamanya yang berasal dari Pencipta sebagimana dalam firman-Nya di Q.S Al Maidah : 3 “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”dan sebagaimana dijelaskan dalam H.R Ahmad bahwa akan ada masa yang akan kembali mengikuti metode kenabian. Wallahu a’alam.

Komentar