Internet Layak Anak, Minus Sistem yang Layak

Opini402 views

Oleh: Nur Fitri

Dunia seakan berjalan dengam sangat cepatnya. Perkembangan teknologi informatika membuat dunia semakin kecil saja. Segala kejadian dibelahan bumi manapun dapat dengan mudah dan cepat kita akses. Salah satunya adalah internet. Teknologi dunia maya ini mampu menjelajah segala informasi yang kita inginkan hanya dengan sekali klik pada komputer atau gadget asalakan sudah tersambung dengan sambungan internet.

Media sosial terus tumbuh dengan berbagai fitur dan kemudahan, disisi lain ternyata membanjiri pikiran anak muda dengan kenikmatan duniawi hingga berujung pada kemaksiatan. Facebook, line, wa, twitter, youtube dan kawan-kawannya sangat mudah di akses oleh siapapun dan bebas melakukan apapun. Namun masalahnya remaja yang masih labil ini tidak memiliki filter ketika berhadapan dengan dunia maya yang serba bebas.

Jakarta (ANTARA) Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Milenial Internet di Indonesia belum layak anak karena masih ada iklan rokok yang mudah di akses dan dilihat anak-anak. Sebagai contoh, salah satu indikator kabupaten/kota layak anak adalah tidak ada iklan, promosi, dan sponsor rokok. Bila masih ada iklan rokok berarti internet di Indonesia belum layak anak”, kata deputi tumbuh kembang Anak, Ibu Lenny N. Rosalin selaku Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak saat dihubungi di Jakarta, Minggu, 23 Juni 2019. 

Selain itu, Mentri Komunikasi dan Informasi  Rudiantara, Tempo.com (05/05/2019). Dia mengatakan, dari hasil crawl , kata rudi, Kominfo menemukan 114 kanal di media sosial;  facebook, instagram, dan YouTube yang jelas melanggar Undang-Undang 36/2009 pasal 46, ayat (3) butir c tentang promosi rokok yang memperagakan wujud rokok.

Teknologi itu bagaikan mata pisau yang tajam satu sisi positif dan sisi lain banyak mengandung sisi negatif. The Man Behind System tergantung orang yang memanfaatkan teknologi tersebut. Tidak bisa kita pungkiri bahwa bahayanya internet yang berdampak pada rusaknya generasi kita saat ini tidak sekedar hanya pada iklan rokok yang banyak bermunculan, ada banyak macam konten yang lebih berbahaya dari iklan rokok seperti pornografi dan pornoaksi yang sekarang berkembang pesat di dunia maya lewat internet banyak berpengaruh pada perkembangan anak. 

Tentu masih segar dalam ingatan kita tentang kasus yang terjadi pada belasan anak dibawah umur asal kampung cipeteuy, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, yang mengalami ketagihan seks yang tak lazim, mereka melakukan adegan syur layaknya penyuka sesama jenis setelah menonton video porno (viva.co.id, 14/04/2019). Belum lagi game online akibat mudahnya mengakses berbagai macam game di internet, anak -anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya bermain game dari pada belajar, akhirnya tidak sedikit prestasi mereka menurun akibat bermain game. Bahkan ada yang mengalami gangguan mental akibat dari kecanduan game online.

Dunia maya begitu menggerus generasi dengan sekulerisme dengan informasi ingin bebas dan berekspresi menjadi generasi yang menunduk, kepribadiannya lemah dan kecanduan dengan gedget. Hal ini tentu tidak bisa diselamatkan dengan proyek Internet Aman seperti yang digagas Kominfo. Internet layak anak sulit diwujudkan selama negara masih mempertahankan sistem sekuler demokrasi yang tak mengenal halal haram, menjauhkan peran agama dari kehidupan. 

Akidah demokrasi yang  memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) berbagai kemerosotan moral baik baik itu pornografi, seks bebas dan lain-lain penyumbang utamanya adalah atmosfer sekulerisme. Demokrasi tidak lepas dari ide kebebasan, ide inilah yang telah membawa bencana mengerikan menimpa seluruh umat manusia ialah ide kebebasan individu yang di bawa oleh demokrasi. Sistem sekulerisme menjauhkan sendi – sendi kehidupan dari agama, agama hanya di fahami sebatas aturan spritual individual seperti shalat, zakat, puasa, atau seruan kemanusiaan dan akhlak semata dengan meninggalka  aturan kehidupan publik.

Karena kecanggihan era kini bernafaskan sekulerisme dan kebebasan melahirkan para kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk mengejar materi duniawi tanpa membedakan halal dan haram. Alhasil internet itupun tidak luput dari peran para kapitalis yang hanya mengutamakan keuntungan semata, tak heran sangat banyak konten-konten yang bertenagan dengan agama dan moral bahkan merusak generasi. Sehingga jika mengambil solusi harus pada problematika yang inti, yaitu arus sekulerisasi yang menjelma dengan berbagai bentuk harus di cabut dari media sosial. 

Sistem islam satu-satunya sistem yang terbaik yang punya mekanisme komprehensif dalam penjagaan generasi. Islam adalah sistem kehidupan yang berasas atas aqidah yang shohih diatasnya dibangun sistem. Seluruh masalah kehidupan baik menyangkut hubungan individu dengan Rabbnya dalam bentuk ibadah mahdah, hubungan individu dengan individu lain dalam bentuk mua’malah, uqubat (sanksi), ataupun yang menyangkut hubungan individu dengan dirinya sendiri seperti makanan, pakaian, minuman, dan akhlak semuanya lengkap ada dalam islam. Sebagaimana dalam firman Allah SWT : 

“Dan kami turunkan kepada Al kitab (Al Qur’an) untuk menjelaakan segala seauatu” (TQS. An -Nahl : 89)

Begitu pula Allah SWT mewajibkan umat islam bertahkim hanyya kepada hukum Allah semata.

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (TQS. Al Maidah : 48).

Kerusakan moral laksana penyakit yang menggerogoti tubuh anak. Cepat atau lambat akan dapat mematikan. Islam memberika  konsep yang bersifat perlindungan menyeluruh terhadap perusakan moral. 

Pertama, Ketakwaan, anak-anak yang terbina ketaqwaannya sejak dini ini dilakukan pertama dan utama oleh keluarga, orang tua harus membekali anak dengan sistem canggih yaitu penanaman aqidah islam yang telah “terinstal” dalam dirinya akan menjadi filter sekaligus anti virus sehingga mampu mengoprasikan intenet dengan membuka konten-konten yang sehat.

Kedua, Peran Kontrol Masyarakat, masyarakat melakukan tindakan Kontrol/muhasabah amar ma’ruf nahi munkar sehingga tumbuh masyarakat islami jika ada kemaksiatan atau adanya potensi munculnya kejahatan masyarakat akan melaporkannya kepada pihak yang berwenang

Ketiga adalah perlindungan negara dan menjadi garda terdepan. Negara yang betul-betul amanah melindungi anak dari kerusakan moral. Persoalan kerusakan moral anak atau generasi muda yang terjadi saat ini bukan sekedar kesalahan pada orang tua, ada faktor yang tidak boleh dilupakan yaitu peran negara serta sistem yang diterapkannya. 

Negara yang menerapkan sistem islam (Khilafah) mempunyai peran dalam rangka melindungi kerusakan moral anak, yang tertuang dalam syariat islam :

1. Supremasi hukum, hukum islam bersumber pada Alquran dan Assunnah, khilafah memiliki sekumpulan uqubad (sanksi) yang terbukti tangguh dalam fungsinya sebagai pencegah, menegakan hukum uqubat bagi pelaku perzinahan, pornografi tanpa pandang bulu. 

2. Mengendalikan arus informasi dan menjaga media sosial dari penyalah gunaan penggunaan, memfilter film, game dan konten-konten yang merusak masyarakat dengan unsur sensualitas, seksualitas, dan kebebasan berekspresi.

3. Memberikan pendidikan yang mengarahkan remaja khususnya atau masyarakat pada umumnya untuk menjadi orang yang berkepribadian mulia, pendidikan bukan hanya berbasis materi dan hanya mengejar ijazah, memgejar pekerjaan semata sukses duniawi semata tapi minus keimanan dan ketaqwaanya tapi orang yang berilmu dan berkepribadian islam.

Islam datang untuk memberikan rahmat pada manusia, memberikan keberkahan dalam kehidupan dan mensejahtrakan umat manusia, dan sebaliknya jika kita abaikan islam maka yang pasti kita tidak akan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan. Lebih jauh lagi karena mengabaikan sistem islam sama dengan bermaksiat kepada Allah SWT maka pasti akan menghancurkan umat manusia. Sudah terbukti kapitalisme-sekuler telah gagal membentuk kehidupan bahkan menghantarkan pada kerusakan generasi. Sekali lagi yang kita butuhkan adalah penerapan islam dalam kehidupan. 

Wallahu A’lam bishowab

Komentar