Pemimpin Takut Kepada Allah Tak Tolak Syariat

Opini601 views

Oleh: Lia Amalia (Anggota Smart With Islam Kolaka)

RMOL. Pernyataan calon presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat ingatan Setiyardi Budiono kembali ke ruang persidangan. Di dalam debat kedua bersama penantangnya, Prabowo Subianto, Jokowi mengatakan dirinya hanya takut pada Tuhan.

Setiyardi Budiono adalah pemimpin redaksi tabloid Obor Rakyat. Awal Januari 2019 dia menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman 8 bulan penjara. Setiyardi diproses hukum bersama Darmawan Sepriyossa Asli, redaktur Obor Rakyat, karena tulisan mengenai siapa orang tua Jokowi. Keduanya dituduh mencemarkan nama baik. Setyardi menceritakan di dalam persidangan dirinya meminta Majelis Hakim memanggil Jokowi. Setyardi yang duduk di kursi terdakwa merasa Jokowi perlu dihadirkan karena yang membuat laporan ke polisi.

“Lazimnya pelapor datang ke persidangan. Pak Jokowi sepatutnya menjelaskan ke Majelis Hakim secara terbuka. Apalagi perkara Pasal 310 yang dituduhkan termasuk delik aduan,” tulis Setiyardi di akun Facebook-nya.

Setiyardi mengatakan jika Jokowi berani datang maka dirinya berhak mengajukan pertanyaan terkait materi laporan yang sudah disiapkannya kepada Jokowi. Majelis Hakim sempat meminta JPU agar menghadirkan Jokowi selaku saksi korban. Namun Jokowi absen. Bahkan sidang ditunda beberapa kali karena Jokowi tidak datang.

“Akhirnya JPU hanya menyampaikan surat dari Mensesneg Praktikno ke Majelis Hakim. Isinya kurang lebih: ‘Presiden Jokowi tak bisa hadir di persidangan Obor Rakyat’. Tentu saya kecewa. Tak bisa mengklarifikasi secara langsung apa kesalahan Obor Rakyat,” kenang dia.

Karena dalam debat menyatakan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah SWT, Setyardi haqul yakin Jokowi berubah. Pekan lalu dia mengirim surat permintaan wawancara dan konfirmasi kepada Jokowi untuk dimuat dalam tabloid Obor Rakyat yang akan terbit dalam waktu dekat.

“Sekarang saya 1000% yakin Pak Jokowi akan memberikan waktu. Sebab beliau adalah sosok yang berani, hanya takut kepada Allah,” demikian Setyardi.[dem]

Kapitalisme, Biang Kerok

Statement presiden Jokowi bahwa ia hanya takut kepada Allah akhir-akhir ini menjadi topik pembahasan, ini sangat tidak relevan dengan apa yang dilakukan pemerintah hari ini, karena pada faktanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah hari ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam banyak kebijakan yang menentang aturan-aturan Islam, dan meremehkan aturan-aturan yang telah Allah berikan yang berada dalam agama (Islam) itu sendiri. Nah, tentu ini sangat bertolak belakang dengan ucapan presiden pada debat keduanya.

Jika seseorang merasakan ketakutan artinya ada tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan ketakutannya tersebut. Pemimpin yang takut kepada Allah harusnya takut pula untuk melanggar hukum syara yang telah Allah tetapkan dan haruslah pula berlaku adil Sebagai seorang pemimpin. Namun banyak fakta yang menunjukkan pemerintah melanggar hukum Allah dan banyak tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah terhadap rakyatnya yang tidak adil salah satunya penerapan hukum di Indonesia yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah yang menunjukkan tidak adanya keadilan, dan semua ini terjadi dikarenakan sistem yang diterapkan di negeri ini adalah sistem kapitalis yang menempatkan materi sebagai pemegang kuasa, siapa yang punya materi maka ia yang menang.

Seorang pemimpin yang takut kepada Allah harusnya memiliki karakter integritas, yakni perkataan dan perbuatan berjalan beriringan bukan sebaliknya, pemimpin yang takut kepada Allah adalah pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab, tanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya, pemimpin yang memilki kepedulian terhadap kebutuhan masyakat, tidak hanya memikirkan kepentingan dan kebutuhan pribadi, tidak menutup telinga terhadap masalah-masalah yang terjadi dan bagaimana mungkin bisa dikatakan seorang pemimpin takut kepada Allah jika yang dilakukan adalah menebar janji kemudian diingkari dan berkata dusta.

Kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, seperti impor beras yang merugikan petani, mendatangkan Tenaga Kerja Asing (TKA) padahal masih banyak rakyat Indonesia yang mengalami pengangguran, dan kekayaan alam Indonesia seperti tambang emas, batubara, nikel dan lain-lain diserahkan kepada asing untuk dikelola sehingga menimbulkan kerugian untuk negara maupun rakyatnya, tentunya ini semua tidak sesuai dengan statement presiden tersebut, karena jika memang benar takut kepada Allah harusnya takut pula untuk menyengsarakan umat Islam.

Takut Menurut Islam

Takut kepada Allah harusnya tidak hanya terucap di bibir namun juga terealisasikan dalam setiap perbuatan yang tentunya harus sesuai dengan segala perintah-perintah Allah, maka dari itu umat harus sadar bahwa kriminalisasi yang dilakukan terhadap ajaran Islam, kriminalisasi terhadap ulama, kriminalisasi terhadap khilafah, menganggap khilafah tidak memiliki sistem baku padahal sistem khilafah pernah berlangsung belasan abad, mengatakan khilafah itu utopis padahal negara-negara barat serius dalam menghadang pendirian khilafah, khilafah ditolak padahal khilafah merupakan institusi pelaksana syariat Islam secara keseluruhan,ini membuktikan bahwa penguasa tidak takut pada Allah. Sebab jika betul pemerintah hari ini takut kepada Allah tentunya khilafah ini tidak akan ditolak.

Dalam Islam rasa takut kepada Allah muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya. Seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah dan kekuatan abadi-Nya, akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya sebagai bagian keadilan Ilahi jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya sesuai dengan keinginan Allah.

Maka dari itu umat harus sadar bahwa yang sebenarnya yang diperlukan adalah pemimpin yang benar-benar takut kepada Allah dimana menjalankan pemerintahan harus sesuai dengan aturan Allah. Berkaitan dengan urgensi kepemimpinan, Islam dengan tegas menekankan pentingnya pemimpin, dan umat Islam harus punya pemimpin. Pemimpin yang baik mendapatkan penghargaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya pemimpin yang tidak baik mendapat laknat dan kutukan dari Allah.

Pada dasarnya, umat mesti taat kepada pemimpin. Namun, keharusan taat ini, tidak berarti masyarakat kehilangan fungsi kontrol. Islam tetap mengisyaratkan setiap individu untuk melakukan kontrol terhadap berbagai kemungkaran, termasuk yang dilakukan oleh pemimpinnya. Begitu pentingnya seorang pemimpin bagi umat Islam, ajaran Islam mengatur secara khusus urusan ini. Seorang Muslim tidak seharusnya menyia-nyiakan urusan yang termasuk pada wilayah politik ini, pastikan bahwa pemimpin yang dipilih adalah mereka yang adil atau yang paling berpotensi untuk berbuat adil. Ingat pesan Rasulullah SAW, “Bahwa orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan orang yang terdekat dengan-Nya ialah pemimpin yang adil; sedangkan orang yang paling jauh dengan-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR Tirmidzi).

Namun yang perlu diperhatikan bahwa selama Indonesia masih menganut sistem sekuler kapitalis tidak akan ada keadilan dan salah satu bukti ketidakadilan penguasa adalah membubarkan ormas Islam dengan menggunakan kekuasaan, sistem hari ini menggunakan kekuasaan untuk melancarkan segala kepentingan-kepentingan meskipun itu menentang Allah. Dan ini membuktikan ketidaktakutan penguasa terhadap Allah.

Alhasil, untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar takut kepada Allah dan seluruh lapisan masyarakat pun takut kepada Allah maka haruslah kemudian negara terlebih dahulu menerapkan sistem Islam, di mana negara berkewajiban mengajarkan tentang tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah sehingga dengan sendirinya akan muncul rasa takut untuk menentang Allah dan betul-betul menerapkan 100% aturan dari Allah. Sehingga penguasa pun bisa berlaku adil dan tidak semena-mena dalam mengeluarkan kebijakan terutama pada umat Islam. Wallahu a’lam.

Komentar