Prabowo Bermesraan dengan Jokowi Bentuk Penghianatan Rakyat

Opini665 views

Oleh: Indar Aprianto (Koord. Kastra GEMA Pembebasan IAIN Kendari)

Dilansir dari KOMPAS.com, Presiden Joko Widodo bertemu calon Presiden Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu kemarin (13/7/19).

Calon Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada Joko Widodo yang telah ditetapkan sebagai calon Presiden terpilih pada pemilihan Presiden 2019. 

“Ada yang bertanya kenapa Pak Prabowo belum mengucapkan selamat atas Pak Jokowi ditetapkan sebagai Presiden, saya katakan saya ini walau bagaimanapun ada tata krama.” kata Prabowo. ”Jadi kalau ucapkan selamat, maunya tatap muka, jadi saya ucapkan selamat!” lanjut Prabowo (13/7/19).

Ada ungkapan yang mengatakan “dalam Demokrasi tidak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi hanya kepentingan.” Semua bisa menjadi pengkhianat. Mungkin ungkapan ini cocok disandingkan kepada Pak Prabowo Subianto. Tidak sedikit rakyat yang kecewa dan merasa terkhianati dengan tingkahnya. Rakyat pun menjadi sadar bahwa ungkapan-ungkapan puitis yang selama ini keluar dari lisan Pak Prabowo hanyalah fatamorgana, semakin dikejar semakin dia jauh dari harapan.

Sebuah wasiat yang memilih untuk menjemput kemuliaan atau mati syahid darinya telah membuat rakyat bergerak mengorbankan harta bahkan nyawa melawan kecurangan dan menuntut keadilan. Aksi damai 22 Mei yang memakan banyak korban jiwa menjadi saksi perjuangan rakyat membela kebenaran yang berada dipihak kubu oposisi, dan ratusan anggota KPPS yang meninggal dunia demi menjaga surat suara agar tidak dimanipulasi oleh kubu lawan, tidak membuat rakyat takut untuk tetap setia membela keadilan bersama sebab rakyat yakin akan keamanahan Pak Probowo. Akan tetapi semua itu seolah tidak ada gunanya setelah hari ini. Rakyat merasa kecewa terkhianati.

Dilansir dari media lain, Prabowo juga menyatakan kesiapannya untuk membantu kinerja Jokowi sebagai Presiden terpilih.

“Menjadi Presiden itu adalah mengabdi, jadi kami pikir masalah yang beliau pikul itu besar. Kami siap membantu untuk kepentingan rakyat,” kata Prabowo (CNNIndonesia, 13/7/19).

Ada apa dengan Pak Prabowo? Mengapa kini dia mulai bermesraan dengan rezim?

Perjuangan Pak Prabowo berkontestasi politik sejak dulu hingga kini belum membuahkan hasil. Beberapa partai berkoalisipun menjadi kecewa, sebab kehilangan harapan menduduki kursi parlemen. Mungkin hal itu juga dirasakan beberapa partai yang berkoalisi dengan oposisi saat ini. Demokrat dan PAN sudah terang-terangan melirik kubu petahana Jokowi-Ma`ruf karena mulai tergiur dengan jatah bagi-bagi kursi kekuasaan yang akan ditentukan pertengahan Juli nanti. Dan hal itu bukanlah hal yang aneh dalam Demokrasi. Banyak bukti pengkhianatan semacam itu.  Dr. Ngabalin yang dahulu menjelek-jelekkan Pak Jokowi, kini menjadi “anak kucing” setelah diberikan tempat duduk dalam Istana kenegaraan. Dan yang terbaru bagaimana proses “hijrah” nya KH. Ma`ruf Amin selaku ketua MUI pusat yang juga dahulu menjelek-jelekkan Pak Jokowi, bahkan mengeluarkan fatwa tentang haramnya memilih pemimpin ingkar janji pun menjadi luluh setelah dinobatkan sebagai Cawapres kubu petahana periode 2019-2024. Dan bisa jadi yang membuat Pak Prabowo merubah haluannya selaku oposisi juga hal yang sama. Dia bermesraan dengan petahana dikarenakan tergiur dengan kursi kekuasaan sebagaimana pengkhianat-pengkhianat sebelumnya. 

Dahulu rakyat hanya marah kepada Pak Jokowi, namun setelah hari ini rakyat juga marah kepada anda!

Tidak perlu heran dengan hal itu. Semua itu wajar terjadi dalam Demokrasi sebagaimana ungkapan diawal, tidak ada kawan dan lawan abadi. Semua bisa menjadi pengkhianat. Inilah jadinya ketika tidak meletakkan kedaulatan pada tempatnya. 

Demokrasi telah meletakkan kedaulatan ditangan “rakyat” atau lebih tepatnya “rakyat ber-uang”. Sehingga orang berlomba-lomba menjadi penguasa padahal mereka tidak memiliki kesanggupan.

Ucapan bela kedaulatan rakyat hanyalah omong kosong belaka. Siapapun orangnya, bahkan ulama sekalipun. Yang mereka inginkan hanyalah kedaulatan sehingga mereka dapat melegislasi hukum sesuai yang “mereka butuhkan”, bukan yang rakyat butuhkan. Maka tidak heran banyak pejabat yang seharusnya “melanggar” ketentuan hukum dibebaskan dengan hadirnya UU baru, dan juga banyak yang seharusnya “tidak bersalah” malah dihukum dengan hadirnya UU baru. Tentu ini adalah sebuah kezaliman.

Maka dari sini kami umumkan, kami bukan hanya marah kepada Pak Jokowi dan Pak Prabowo saja, tetapi juga terhadap demokrasi!

Solusinya bagaimana? Umat sudah terbakar amarah bahkan mungkin putus asa!

Letakkan kedaulatan ditempat yang semestinya. Bukan ditangan rakyat karena rakyat adalah makhluk yang terbatas dan akan menjadi pengkhianat, tetapi letakkan kedaulatan itu ditangan yang lebih tahu diri kita dibandingkan kita sendiri, yang telah memberikan amanah kekhalifahan terhadap manusia dibumi ini, yaitu Allah.

Allah berfirman:

“boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” (TQS Al Baqarah: 216)

Mungkin hari ini umat sangat menjunjung tinggi Demokrasi, tetapi ketahuilah justru Demokrasilah yang menciptakan pemimpin-pemimpin zalim sehingga rakyat ditindas dan dizalimi. Dan mungkin umat memandang Islam adalah agama to tetapi ketahuiah bahwa Islam itulah solusi dari segala permasalahan yang melanda negeri ini.

Lalu nasib non muslim?

Mereka akan diayomi oleh Islam. Terbukti secara historis dalam negara Islam tidak ada satupun non muslim yang ditindas. Hanya ada pengakuan atas kesejahteraan yang Islam berikan untuk mereka. Sebab Islam bukan untuk kaum muslimin saja tetapi untuk seluruh alam.

Allah berfirman:

“dan aku (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya: 107)

Wallahu a`lam.

Komentar