Oleh: Hasrianti (Mahasiswi UHO)
Bagai angin yang bertiup kencang bau pilpres kian menyengat tak terbendung. Pilpres adalah pertempuran antara kalah dan menang. Kedua kubu capres akan mengerahkan segala upaya yang mereka miliki dalam menunjukkan kemampuan masing-masing.
Trending topik diberbagai kalangan baik itu masyarakat petani, nelayan, pedagang, buruh, bahkan sampai elit politik Mereka semua ingin sosok figur pemimpin yang digaungkan maju sebagai pemenang.
Sebagaimana yang kita ketahui pemilihan presiden akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Terdapat 2 kandidat yang dicalonkan sebagai presiden. Nomor urut 1 Jokowi dari partai PDIP dan dari nomor urut 2 Prabowo Subianto partai Gerindra yang siap terjun dalam kanca pesta demokrasi.
Kubu 1 yakni jokowi dikenal dimasyarakat sebagai sosok merakyat, ramah, penampilan sederhana, dan empati, sedangkan sosok Ma’ruf amin dikenal sebagai sosok ulama yang berilmu, lembut, dan berbudi pekerti. Tak kalah juga dari kubu 2 yakni Prabowo dikenal sebagai sosok adil, tegas, merakyat, ambisisus, dan berani, sedangkan Sandiaga dikenal sebagai sosok yang cerdas, ramah, kreatif, berkomitemen, dan intelektual.
Menjelang Pilpres 2019 dinamika dalam politik nasional memang sangat intensif dan sensitif. Mulai dari lobi antarpartai politik sampai dengan gencarnya manuver kelompok oposisi yang berpengaruh terhadap pemerintahan.
Salah satu dinamika yang menarik belakangan ini ialah serangan politik pihak kubu 2 yang kembali meluncurkan gerakan simbolis yang dideklarasikan dengan simbol tagar #2019GantiPresiden. Bukan tak berbalas justru dari pihakkubu 1 juga muncul tagar #Jokowi2Periode, kedua tagar tersebut menuai banyak kontroversi.
Tak dipungkiri lagi zamansekarang pengaruh media sosial sangat besar. Hingga tak heran muncul ide-ide menggunakan media sosial untuk berkampanye, tak jarang menyebarkan isu-isu tentang partai lawan, hingga membuat meme tentang pilpres. Semua ini menyebabkan ketegangan menjelang pilpres yang menjadi-jadi bahkan menyebabkan kerenggangan di masyarakat.
Bisa saja kedua kubu digerakkan oleh mesin-mesin politik dan tokoh-tokoh sosial yang berafiliasi dengan partai-partai tertentu. Namun boleh jadi memang merupakan gerakan perseorangan dan ada pula dukungan dari pemilik modal secara sistematis dan terstruktur. Sebagaima disinyalir ada dana yang cukup besar diluncurkan guna maju sebagai jawara Indonesia.
Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum atau Bawaslu RI akan telusuri dugaan belasan penyumbang dana kampanye fiktif yang berasal dari dua kubu paslon pilpres 2019, Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandi. Dugaan penyumbang fiktif itu ditemukan dan diungkap oleh Jaringan Pendidika Pemilih untuk Rakyat (JPPR) yang selanjutnya diserahka kepada Bawaslu RI (www.tribunnews.com 22/1/2019).
Terdapat juga dugaan bantuan dari badan usaha non pemerintah terhadap kubu 1. Dalam LADK, ada tiga badan usaha non-pemerintah yang menyumbang berupa cash sebesar Rp 7,5 miliar. Sementara dalam LPSDK, ada satu badan yakni sebesar Rp 3,99 miliar. Badan usaha itu diketahui bernama PT. Lintas Teknologi Indonesia. Presiden Direktur badan diketahui bernama Muhamad Paisol (www.tempo.com 3/1/2019).
Analisis IHSG dari Lana Soelistianingsih Economist Samuel Aset Manajemen menjelang pilpres mulai banyak investor kembali optimis untuk menduduki pasar-pasar ekonomi di Indonesia. Meluncurkan dana-dana asing yang tentunya ada sesuatu yang diharapkan dari sekedar memberikan pasokan dana (www.kontan.co.id 26/11)
Kapitalisme Melahirkan Pemimpin Rusak
Kehidupan sekuler kapitalistik yang telah mendarah daging di Indonesia, mendominasi kehidupan masyarakat saat ini tanpa disadari telah membawa petaka di segala bidang, tak terkecuali pemimpin negara. Gambaran indahnya kampanye yang dijanjikan tak urung hanya sebagai batu loncatan untuk menarik simpati rakyat.
Ideologi yang menjauhkan agama dari kehidupan ini telah sukses mengantarkan orang yang baik menjadi tidak baik, secara tidak langsung ketika memasuki arena pemerintahan dengan sistem kapitalisme.
Sungguh sesuatu hal yang mustahil ketika kain putih yang bersih lalu dimasukan dalam air kubangan kotor lantas warnanya akan tetap sama. Pada dasarnya kapitalisme sudah tabiatnya melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak taat kepada Allah, meski dari segi akhlak individu terlihat baik.
Semua aturan dalam negara dibuat oleh pemikiran manusia, tak perduli siapapun dia meskipun dia orang kafir yang terang-terangan mengingkari keberadaan Allah.
Tak heran pula ketika terpilih menjadi kepala negara janji-janji kampanye mulai dilupakan satu persatu. Pesta demokrasi bergulir setiap lima tahun sekali hasilnya akan tetap sama. Seluruh dasar pemerintahan di setir oleh undang-undang yang buat oleh manusia. Undang-undang yang di usung justru semakin mempermudah asing maupun aseng untuk menjajaki kekayaan Indonesia.
Sejatinya sistem kapitalisme tak akan menghasilkan perubahan yang lebih baik, dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan negara secara tuntas dan menyeluruh. Selain itu secara perlahan-lahan menentang ajaran agama dan menyerang para pendakwah yang dinilai dapat menghalagi tujuan mereka. Rakyat harusnya sadar dengan keterpurukan yang dialami.
Karakter Pemimpin Ideal Ala Islam
Islam sebagai agama yang sempurna memiliki seperangkat aturan yang apik untuk mengatur seluruh sendi kehidupan manusia termasuk dalam hal kepemimpinan.
Siapa yang tak mengenal sosok Rasulullah SAW ia adalah sosok pemimpin ideal, dan suri tauladan yang baik bagi seluruh manusia. Tak ada satu orangpun yang dapat menandingi akhlak mulianya. Beliau memiliki akhlak dan sifat mulia, dapat menjadi kunci sukses untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.
Diantara sifat-sifat yang harus ada dalam diri seorang pemimpin sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fatanah.
Dalam hadist shahih juga telah dijelaskan sebagai berikut:
Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya (Hr. Bukhari dan Muslim).
Pada dasarnya, hadis di atas berbicara tentang etika kepemimpinan dalam islam. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa etika paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggun jawab. Semua orang yang hidup di muka bumi ini disebut sebagai pemimpin, karenanya, sebagai pemimpin, mereka semua memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri. Seorang presiden, bupati, gubernur bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya.
Akan tetapi, tanggung jawab di sini bukan semata-mata bermakna melaksanakan tugas lalu setelah itu selesai dan tidak menyisakan dampak (atsar) bagi yang dipimpin. Melainkan lebih dari itu, yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih berarti upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpin. Dijelaskan juga bahwasanya seorang pemimpin yang menipu rakyatnya akan diharamkan syurga baginya.
Sifat-sifat pemimpin ala Rasululah demikian juga diikuti oleh para sahabat selama menjadi pemimpin umat. Sebagaima Abu bakr seorang pemimpin yang taat dan sahabat Rasulullah yang banyak berkorban dijalan Allah, berani, lemah lembut, amanah, jujur, sabar, dan rendah hati.
Tak jauh berbeda pula dengan umar bin khatab dikenal sebagai sosok yang cerdas, pemberani, adil, sederhana, dan bertanggung jawab. Begitupun sahabat Rasul Usman dan Ali mereka semua sosok pemimpin setelah Rasulullah yang patut dicontoh dalam memimpin.
Masyarakat hidup sejahtera tak ada satupun rakyat yang menderita, bahkan tak ada yang layak menerima zakat, seluruh aspek kehidupan terpenuhi dengan baik tanpa melanggar aturan Allah.
Begitulah Islam berhasil memimpin dunia selama 1400 tahun dan melahirkan sosok pemimpin yang ideal, bukan hanya terbaik dari segi akhlak tetapi juga intelektual, mampu mensejahterakan dan melindungi umat tanpa terkecuali nonmuslim
Semua itu hanya bisa terlaksana dengan adanya Daulah Khilafah Islam sebagai wadah terlaksananya seluruh aturan Allah. Maka seharusnya kita memperjuangkannya guna mengembalikan kehidupan Islam sebagai Rahmatanlilalamin.
Wallahu’alam bishowab.













Komentar