Dunia Pendidikan Kehilangan Arah

Opini478 views

Oleh: Siti Maisaroh

Pemerintah tengah merevisi aturan terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Rencananya, dalam aturan tersebut akan dibuat beberapa intensif untuk menarik tenaga pendidik asing mengajar di Indonesia. Ellen selaku Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri menjelaskan, nantinya revisi juga membahas untuk pajak orang pribadi luar negeri seperti dosen asing. Pihaknya pun masih menghitung perpajakannya agar tidak merugikan di waktu depan. (DetikFinance, Senin 10 Juni 2019) 

Beberapa hari lalu, Menristekdikti Mohammad Nasir juga melepas 45 orang delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melaksanakan kunjungan ke China mulai 15 hingga 21 Juni 2019. “Saya ingin mengajak mahasiswa untuk berfikir lebih maju dan punya wawasan lebih luas.” Ungkap Nasir (Banten, Jumat 14/6). Program kunjungan yang merupakan respon atas undangan China tersebut bertujuan untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan teknologi China kepada mahasiswa Indonesia. (ANTARA, Jumat, 14 Juni 2019)

Pertukaran insan pendidikan memang bukan hanya sekali ini terjadi, namun sepertinya kita tetap berhak memberikan respon akan hal yang cukup memprihatinkan demikian. Mengapa prihatin? Yah, karena pada sejatinya, pemerintah harus mengkaji ulang akan kebijakannya demikian. Impor dosen, apakah ini tidak mencoreng wajah para intelektual yang sudah menyandang gelar tinggi di negeri ini. Tidakkah mereka lebih layak dan berkualitas untuk menyumbangkan ilmunya kepada anak-anak bangsa? Bukankah masih menjadi masalah pula, dosen-dosen yang mengeluh akan gajih dan tunjangannya yang tidak sesuai jam kerja mereka? Bukankah meningkatkan kualitas serta memberi perhatian lebih kepada mereka yang merupakan putra dan putri bangsa adalah lebih baik? Lantas mengapa harus mengundang dosen dari luar? 

Juga melepas delegasi mahasiswa ke China, rasanya ini sangat tidak perlu dilakukan. Karena China bukanlah Negara maju yang patut dijadikan contoh untuk Indonesia. China bukan Negara  beradab sebagaimana cita-cita bangsa ini ingin melakukan perubahan mental. Juga China adalah Negara no wahid yang terdeskripsi sebagai Negara Komunis. Dimana mereka menjunjung tinggi kesetiaan kepada Marxisme, Lininisme atau Maoisme. Juga sebagai penyandang negeri Muslim terbesar di dunia, sangat tidak layak jika kita mengekor pada pemahaman dan ideologi yang diemban China dimana agama dianggap sebagai penghambat dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, hingga agama tidak mendapatkan ruang bebas dari negaranya. 

Tentu bangsa ini ingin bangkit dan mandiri. Namun arah yang telah dilakukan untuknya adalah arah yang keliru. Rasanya tiada jalan kembali, kecuali mencontoh para leluhur kita yakni menjadikan syari’at Islam sebagai solusi dalam kehidupan. Dimana Negara tidak akan memberi ruang kepada para insan pendidikan untuk menganut filsafah selain Islam yang diadopsi oleh Negara asing, baik dengan cara impor maupun ekspor. Sebagaimana ketika dahulu Islam berjaya, selain memberikan pendidikan secara gratis, rakyat juga diberi fasilitas untuk mengembangkan bakat dan keahliannya sehingga mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Dari Negara yang menerapkan aturan Islam secara sempurna pulalah lahir para ilmuan Muslim baik laki maupun perempuan yang karyanya masih termanfaatkan sampai sekarang. Seperti penemuan pena cair oleh Sultan Mesir, cara berhitung oleh al Khawarizmi dan Al Kindi, pisau bedah oleh Abu Qosim Az Zahrawi, pesawat terbang oleh Abbas ibnu Firnas, kamera oleh Ibn al Haitham dan masih banyak lagi penemuan lainnya. Waallahu a’lamu bishowab. 

Komentar

Baca Berita