Islamophobia Meningkat, Demokrasi Makin Akut

Opini461 views

Oleh: Ayu Oktaviani Kursia (Anggota Smart With Islam Koltim)

Dakwah sumut.com, Medan – Tepat pada Jumat (08/03/19) lalu terjadi pembubaran kegiatan diskusi mahasiswa atau “Dialogika” di kampus  UIN-SU yang dilaksanakan oleh gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat UIN-SU yang mengangkat tema “Malapetaka Runtuhnya Khilafah”. Berdasarkan laporan di lapangan, pembubaran ini di tengarai karena poster acara yang sempat viral di dunia maya yang membuat pihak kampus akhirnya mengambil sikap cepat untuk membubarkan kegiatan yang dianggap berbahaya ini.

Ketua Komsat Gema Pembebasan UIN-SU menuturkan bahwa awal kejadian dimulai dari datangnya pihak civitas kampus yang tidak memiliki surat izin, namun karena ini sifatnya agenda kajian yang tidak menggunakan fasilitas kampus yang diwajibkan harus memiliki surat izin terdahulu, maka pihak civitas tersebut tidak bisa membubarkan kegiatan diskusi. Tak lama berselang, beliau kembali lagi dan kali ini membawa beberapa pihak pengaman kampus untuk membubarkan kegiatan, tapi karena mereka tak cukup dalil untuk membubarkan diskusi akhirnya diskusi tetap berlangsung.

Tak lama kemudian setelah mereka pergi, datang beberapa mahasiswa yang mengaku sebagai Dema (Dewan Mahasiswa) setingkat BEM, menanyakan perihal acara, mulai dari mempermasalahkan surat izin, hingga menyinggung tema yang dianggap sensitif dan berpotensi meninmbulkan perpecahan di kampus, namun dengan sigap Suryadi Pradana selaku Ketua Komsat Gema UIN-SU menanggapi bahwa tuduhan yang dilancarkan itu tidak benar, sebab apa yang didiskusikan tidak membahas seputar redikalisme, dan upaya separatisme yang patut dimusuhi, yang dibicarakan melainkan sejarah Islam yang pernah mengalami masa kegemilangan. Tak kunjung berhasil membubarkan acara, akhirnya Rektor bersama dengan beberapa staff-nya turun ke lokasi kegiatan dengan menyampaikan bahwa acara harus di bubarkan, “Dari pada saya yang ditelepon Menteri lebih baik kalian yang saya bubarkan” entah itu guyonan atau benar adanya, wallahua’lam,” tutur Andika Mirza Ketum Gema Pembebasan Sumut yang juga ada di tempat kegiatan. Selepas diskusi yang cukup tegang itu berakhir, kemudian Gema tak langsung membubarkan diri dan masih melanjutkan diskusi ringan, lalu membubarkan diri tepat pada pikul 18.05 WIB.

“Intinya kami akan tetap menemui beliau secara formal melalui surat, pertama untuk menjalin hubungan baik agar dakwah kami bisa eksis di kampus ini, kedua agar kami dapat menyampaikan ide-ide kami yang mudah-mudahan dapat diterima dengan baik,” tutup Mirza kepada Dakwah Sumut.

Akar Islamophobia

Phobia diartikan sebagai rasa ketakutan yang berlebihan kepada sesuatu, yang dapat menyebabkan reaksi emotional dan fisik islamophobia adalah ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan kepada umat Islam dan semua ajaran Islam. Arus islamophobia makin subur ketika ide sekularisme, demokrasi dan hak asasi manusia telah mewarnai kehidupan masyarakat.

Sekularisme, demokrasi dan HAM sebagai sistem yang dianggap paling ideal ini, hakikatnya sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri. Sekularisme, demokrasi, dan HAM sebagai produk Barat, yang menjunjung kebebasan ini memiliki konsep bahwa agama tidak boleh di bawa ke area politik.

Arus islamophobia ini makin nyata pasca serangan 11 September 2001, mereka memproduksi apa yang disebut dengan “perang melawan terorisme” sebagai perang melawan Islam. Mereka membuat ramuan picik, bahwa akar dari terorisme adalah pikiran dan ideologi Islam. Berdasarkan laporan RAND Corporation, Amerika Serikat sendiri memang merancang pendekatan yang amat halus pertarungan ideologi Islam dan kapitalisme.

Inilah buruknya sistem Demokrasi, yang telah dijajakan Barat yang kafir ke negeri-negeri Islam, sesungguhnya merupakan sistem kufur; tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali, baik secara langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam, baik secara global (garis besar) maupun secara partikular (rinci). Kontra-diksi demokrasi dengan Islam tampak dalam sumber kemunculannya, akidah yang melahirkannya, asas yang mendasarinya, serta dalam berbagai ide dan aturan yang dihasilkannya. Oleh karena itu, kaum Muslim diharamkan secara mutlak untuk mengambil apalagi menerapkan dan menyebarluaskan demokrasi.

Negara Indonesia ini mayoritas muslim, apa salahnya membicarakan tentang Khilafah. Khilafah itu adalah ajaran Islam, sama seperti sholat, puasa, haji dan lainnya. Maka apabila menolak sistem Khilafah itu sama saja menolak ajaran Islam. Apakah kita berani menolak aturan Allah?

Pandangan Islam

Islam asasnya adalah penyatuan agama dengan seluruh aspek kehidupan, termasuk negara. Jika peradaban sekuler standarnya adalah manfaat dan mudharat, peradaban Islam standarnya adalah halal dan haram. Jika peradaban sekuler sumbernya adalah kehendak mayoritas manusia, peradaban Islam sumbernya adalah Wahyu Allah SWT. Berdasarkan asas, standar dan sumber inilah seluruh bangunan peradaban Islam dibangun; di antaranya sistem ekonomi, politik, pendidikan, peradilan, pergaulan dan lain-lain.     

Kita ini mayoritas muslim jangan sampai kita phobia dengan Agama kita sendiri padahal yang kita ketahui selama ini Islamphobia hanya ada pada negeri-negeri Barat, dimana kaum Muslim menjadi minoritas dan Islam diopinikan secara negatif karena kebencian dan ketakutan yang berlebihan tanpa didasarkan pada sumber yang benar tentang Islam tapi sekarang yang terjadi Islamphobia menyebar di negeri-negeri yang mayoritas Muslim.

Seharusnya Indonesia sebagai mayoritas Muslim mendukung adanya Khilafah bukan sebagai penghalang tegaknya Khilafah karena alasan NKRI harga mati, Pancasila atau anti radikal tapi ujung-ujungnya makan uang rakyat, apakah tingkah laku seperti itu yang patut di pertahankan?

Islamophobia dapat tumbuh subur karena; pertama, kuatnya cengkraman paham sekularisme, demokrasi dan hak asasi manusia. Cengkraman ini begitu kuat di benak kaum muslimin karena ia ditanamkan melalui kurikulum pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan media massa. Kedua, karena adanya agenda monsterisasi Islam Kaffah dan islam politik. Paham demokrasi dan sekularisme memang saat ini dianggap sistem politik terbaik. Sistem demokrasi yang dalam penerapannya menjadikan manusia sebagai pembuat hokum untuk dirinya sendiri sebagai sebuah bentuk kebebasan dari segala doktrin otomatis menggagap Islam sebagai sebuah kekuatan absolut yang menindas. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang sempurna dan memberikan solusi permasalahan kehidupan termasuk didalamnya masalah politik distigmatisasi. Alasan terakhir yang menyebabkan islamophobia atau rasa takut akan kebangkitan dan ajaran islam adalah pengkategorisasian umat Islam dengan banyak predikat atau sebutan.

Alhasil, tiada yang mampu menghentikan Janji Allah kembalinya kehidupan Islami, lenyapnya sistem hidup jahiliyah, dan tegaknya kembali Khilafah di Akhir Zaman ini, Apakah kita menjadi pendukung atau penghalang? Wallahu a’lam.

Komentar

Baca Berita