Kaleidoskop 2018

Opini346 views

Oleh: Dewi Sartika (Anggota Komunitas Peduli Umat)

Tahun 2018 telah berlalu yang tersisa hanyalah cerita dan kisah sedih yang sudah terjadi sepanjang tahun ini. Tahun 2018 adalah tahun kesedihan karena di tahun ini bencana silih berganti melengkapi perjalanan masyarakat dari tahun ke tahun tatkala hidup dalam sistem kapitalis sekuler yang nyata-nyata merusak.

Sepanjang tahun 2018, isu strategis nasional diwarnai berbagai peristiwa baik berdimensi sosial, ekonomi, maupun politik.Yangmana perlu menjadi perhatian dalam mengefektifkan kesinambungan pembangunan.

Dalam bidang ekonomi, kita ketahui bahwasanya pertumbuhan ekonomi semakin menurun dan angka kemiskinan di negara kita semakin meningkat, bahkan siapa pun akan mudah mendapati fakta betapa kondisi ekonomi terasa makin sulit kebutuhan hidup semakin mahal dijangkau. Apa lagi banyak kebijakan dzolim dari penguasa yang semakin memperberat kehidupan masyarakat. Sebagai contoh kebijakan asuransi kesehatan, biaya pendidikan yang kian mahal, kenaikan listrik, BBM dan masih banyak lagi kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Di bidang sosial, fakta yang terjadi di masyarakat menunjukkan betapa kegagalan pemerintah dalam menjaga masyarakat. Terutama generasi muda, agar tetap pada fitrah mereka sesuai dengan syariat Allah. Banyaknya kasus perzinahan, aborsi, pornografi, narkoba, LGBT, miras, serta banyaknya perbuatan kriminal lainnya.

Di tahun ini pula kezaliman dengan kezaliman, kedurhakan demi kedurhakaan terus terjadi seperti persekusi ulama, kriminalisasi ajaran Islam dan lain-lain, sehingga mengundang berbagai peringatan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti yang terjadi di penghujung tahun ini, gempa berkekuatan 6,9 SR menghantam Pulau Lombok, tidak lama berselang gempa berkekuatan 7,7 SR, dan tsunami 1,5–3 m di Donggala, Palu yang membuat kehancuran pada akhir September lalu.

Menjelang penutupan tahun terjadi tsunami di Selat Sunda dan longsor di Garut, semua bencana yang terjadi merupakan teguran dari Allah akibat perbuatan manusia, serta penerapan sistem yang menafikan peran Allah serta agama dalam kehidupan serta mencampakkan hukum-hukum Allah. Sehingga membuat kehidupan jauh dari keberkahan “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Qs.Al-A’raf:96).

Semua kejadian atau peristiwa buruk terjadi di negeri ini, mengharuskan kita untuk melakukan perubahan. Khususnya di tahun ini hingga tahun-tahun kedepannya dan perubahan ini bukan sekedar perubahan parsial, atau perubahan wajah baru rezim semata melainkan yang harus mengarah pada perubahan sistem, yang kemudian bisa menerapkan peraturan yang berasal dari sang pencipta, karena perubahan tidak akan terjadi kecuali kita sendiri yang melakukan perubahan itu“Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (QS. Ar Ra’d: 11)

Karena pada hakekatnya hakiki itu adalah ketika dalam suatu masyarakat negara mereka mempunyai pemikiran yang sama, perasaan yang sama, yang sama yaitu yang berasal dari akidah Islam, yang kemudian diterapkan dalam setiap aspek kehidupan.Sudah saatnya umat untuk mencampakkan sistem kapitalis yang sudah nyata-nyata batil, dan kembali menerapkan hukum-hukum Allah yang dipastikan akan membawa keberkahan bagi seluruh alam. Oleh karena itu, inilah yang menjadi tugas besar kita untuk terus berdakwah dan berjuang untuk membangkitkan ghiroh umat muslim agar segera bersama-sama ikut menumbangkan sistem kapitalisme dan menegakkan solusi dari berbagai problematika yang membelit umat manusia termaksud di Indonesia yaitu sistem Kapitalis Demokrasi. Wallahu A’lam Bishawab.

Komentar