Pemilihan Putri Muslimah, Ajang Eksploitasi Perempuan

Opini1,354 views

Oleh: Fitriani S.Pd (Jurnalis Media Baubau)

Jelang bulan suci Ramadhan 2019, ajang pencarian bakat Puteri Muslimah Indonesia 2019 kembali akan digelar. Setelah sukses melakukan serangkaian audisi terbuka yang telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia serta audisi secara online. Adapun syarat yang menjadi kriteria dalam mengikuti ajang ini ialah, perempuan Indonesia berusia 17-25 tahun dengan tinggi minimal 165 cm. Berhijab dan belum pernah menikah. Bisa membaca Alquran, memiliki keahlian dan bakat khusus, perpenampilan menarik, cantik, cerdas, dan berkepribadian serta bersedia mematuhi segala ketentuan dan peraturan dari pihak penyelenggara. Melalui Kapanlagi.com, telah terpilih 20 finalis Puteri Muslimah Indonesia 2019 yang maju ke malam puncak yang digelar pada Senin (29/4/2019) malam ini. Salah satu stasiun televisi akan menayangkan live mulai pukul 18.30 WIB.

Ajang Puteri Muslimah Indonesia 2019 ini  mengedepankan tiga kriteria khusus yang dikenal dengan ABC, yaitu Akhlak, Bakat, dan Cantik. Sementara itu, para finalis yang terpilih juga akan mendapatkan pelatihan-pelatihan khusus untuk menambah kualitas diri hingga babak final, seperti Public speaking, acting, catwalk, modeling, dan bakat-bakat lainnya. (Liputan6.com, 25/4/2019).

Eksploitasi Kecantikan Muslimah

Secara tersurat, kontes muslimah yang diadakan setiap tahun ini memang menyejukkan, yakni mencari muslimah sholehah yang tidak hanya cantik, namun bagus  juga akhlaknya, tartil bacaan Alqurannya dan berkepribadian Islam. Namun tetap saja yang tersirat adalah, bahwa kontes ini mencari muslimah cantik untuk ikon fashion busana atau kosmetik muslimah. Sebab, bisa dipastikan jika pemenang kontes seperti ini sontak akan menjadi model. Baik model foto maupun peragawati yang berlenggak lenggok memperagakan busana muslimah karya para desiner terkenal. Parasnya akan nampak di majalah-majalah muslimah, katalog-katalog busana muslimah, iklan kosmetik dan iklan produk muslimah lainnya.

Slogan inner beauty alias kecantikan yang terpancar dari dalam itu hanya pemanis buatan saja. Ibarat pemanis buatan dalam es lilin murahan yang dijual keliling, itu hanya akan membuat batuk orang yang memakannya. Begitu juga dengan kontes kecantikan ini. Walaupun diberi baju Islami dengan kontestan berbusana muslimah, ini semua hanya akan menjebak para muslimah dalam industri kapitalis, memalingkan makna hijabnya sebagai pakaian takwa, dan mengeruhkan identitasnya sebagai muslimah  yang sesungguhnya.

Jadi, apapun dalihnya, ajang kontes-kontesan ini sama-sama menjadikan tubuh perempuan sebagai objek penilaian. Acara ini juga hanya akan makin menguatkan opini bahwa perempuan yang eksis itu yang cantik, langsing, fasionable, up to date dan stylish. Hal ini bisa kita lihat dari para peserta hijabers dikarantina untuk di brain washing agar memiliki kemampuan memanage dirinya hingga selalu cantik luar dalam. Cantik luar artinya bagaimana berdandan dan berpakaian modis ala kapitalis. Itulah mengapa sponsor utama acara ini adalah sebuah perusahaan kosmetik. Sedang cantik dalam terkait bagaimana perempuan bisa membekali diri dengan wawasan Islam yang hanya diulas setipis kertas.

Busana muslimah yang mereka kenakan hanya dijadikan sebagai symbol aksesoris belaka. Sekedar pembungkus badan lahiriah. Sementara tubuh dan pemikirannya tetap sekuler. Seperti berhijab namun tak sesuai ketentuan syara, modis dan tetap tabarruj. Itulah mengapa, muslimah yang mengikuti kontes ini di make up secantik mungkin, memakai bulu mata palsu, berpakaian tapi ketat dan menjuntai seperti wanita-wanita jahiliyah, berkerudung tapi tidak menutup dada dan berlenggak-lenggok menebar pesona.

Inilah potret nyata perempuan di alam demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, yang tidak lebih dari sekedar komoditi dan bahan eksploitasi untuk meraih keuntungan bagi para pengusaha industri.

Muslimah Mulia dengan Islam

Islam memiliki seperangkat aturan paripurna dalam mengatur segala hal, termaksud mengatur muslimah. Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian yang menutup semua aurat mereka, yakni jilbab (gamis) yang tidak ketat dan kerudung (khimar) yang menutup dada; melarang bertabarruj; menjaga pandangan mereka; dan melarang mereka ber-khalwat. Sementara ajang putri muslimah ini kental dengan nilai-nilai yang dilarang dalam Islam semisal bertabarruj.

Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud dengan tabarruj adalah seorang perempuan yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki, dengan maksud memamerkan tubuh dan perhiasannya. Tabarruj bisa dengan dandanan wajah, bisa pula dengan parfum, atau mengenakan pakaian yang bercorak mentereng, bertingkah genit dan menggoda lelaki dengan ucapan ataupun gaya jalan, atau dengan menggunakan hijab yang tidak sempurna, semisal ketat, transparan, atau menyingkap sebagian aurat yang harusnya ditutup (Yuk berhijab, 2013).

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda : “Ada dua golongan di antara penghuni neraka yang belum pernah aku lihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang; dan perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang berjalan dengan berlenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga. Dan sesungguhnya aroma surga itu bisa tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.”

Maka sudah seharusnya seorang muslimah menjadikan Islam sebagai tolok ukurnya dalam beraktivitas. Memperhatikan rambu-rambu yang ada, sesuai dengan tuntunan Islam atau tidak. Eksistensi seorang muslimah ditengah masyarakat juga bukan karena ia cantik dan berbakat atau karena menjadi juara putri Muslimah, namun justru seharusnya ditunjukkan dengan bagaimana perannya dalam membangkitkan umat yang kini tengah terpuruk. Pintar menjaga diri, kemuliaan, kehormatannya. Beramar ma’ruf nahi mungkar. Membawa umat kembali kepada jalan yang benar, kepada Islam yang sesungguhnya, dan melaksanakan perannya secara maksimal sebagai ibu generasi. Bukan menjadi icon industri kapitalis atau rela kecantikannya dibagi-bagi oleh publik.

Muslimah yang shalehah  tentu ia akan sangat memperhatikan dirinya dimata Allah, bukan dirinya dimata manusia. Ia pasti akan lebih mengedepankan hukum Allah, dibandingkan pandangan manusia. Sebab yang menentukan mulianya adalah tergantung seberapa jauh kepatuhan dan keoptimalan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang Allah berikan kepada mereka. Namun sayangnya seluruh muslimah baru akan benar-benar meraih kemuliaannya ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Negaralah yang akan melindungi para muslimah dari jebakan eksploitasi para industri kapital.

Wallahu A’lam Bissawab.

Komentar

Baca Berita