Perkembangan Indeks Harga Konsumen Sulawesi Tenggara

Opini565 views

Oleh: Zulfikar Halim Lumintang, SST. (Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka)

Keberadaan konsumen dalam rantai distribusi barang maupun jasa sangatlah penting. Konsumen bertindak sebagai seseorang maupun sekelompok orang yang menerima manfaat dari terciptanya sebuah barang maupun jasa. 

Pentingnya peran konsumen dalam rantai distribusi menjadi bertambah, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pendataan harga bulanan yang dikeluarkan oleh konsumen dalam mendapatkan barang maupun jasa. Harga yang didata oleh BPS diformulasikan sehingga membentuk sebuah indeks yang diberi nama Indeks Harga Konsumen (IHK). 

Perkembangan IHK entah itu naik maupun turun itulah yang menjadi perhatian. Ketika IHK mengalami kenaikan dari periode sebelumnya maka sebuah wilayah disebut mengalami inflasi. Sebaliknya, ketika sebuah wilayah mengalami IHK yang turun dari periode sebelumnya maka wilayah tersebut sedang mengalami deflasi.

Di Indonesia, terdapat 82 kota yang menjadi sampel wilayah penghitungan IHK. Pada bulan Juli 2019 tercatat 55 kota di Indonesia mengalami inflasi dan 27 kota lainnya mengalami deflasi. Di Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat Kota Kendari dan Kota Bau-Bau yang menjadi sampel nasional. Pada Juli 2019, Kota Kendari mengalami deflasi sebesar 0,24% dengan IHK 135,03. Angka 0,24% tersebut didapat dari menghitung perubahan IHK bulan Juni 2019 yang mencapai 135,35. Secara indeks, harga yang dikeluarkan konsumen di Kota Kendari pada bulan Juli 2019 lebih rendah 0,24% dibandingkan harga yang dikeluarkan konsumen pada Juni 2019.

Deflasi yang terjadi di Kota Kendari disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 1,51%; kelompok kesehatan 0,19%; kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,13%. Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks antara lain kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 2,18%; kelompok sandang 0,74%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,15%; serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,02%. 

Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi adalah komoditas yang memiliki penurunan IHK pada bulan Juli 2019, termasuk diantaranya adalah angkutan udara dimana tarif tiket sudah mulai berangsur turun, kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, kangkung, rambe, bayam, tembang, cumi-cumi, teri, ekor kuning, dan bandeng/bolu. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah sekolah dasar, cabai rawit, terong panjang, jantung pisang, sekolah menengah atas, tarif pulsa ponsel, emas perhiasan, kacang panjang, daun singkong, dan cabai merah.

Tingkat inflasi Kota Kendari tahun kalender (Januari-Juli 2019) 5,10% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2019 terhadap Juli 2018) 3,55%. Tingkat inflasi periode yang sama Juli 2018 tercatat 0,66%, tahun kalender (Januari-Juli 2018) sebesar 4,09% dan tingkat inflasi tahun ke tahun untuk Juli 2018 terhadap Juli 2017 tercatat 1,27%.

Berbeda dengan Kota Kendari yang mengalami deflasi, Kota Bau-Bau pada periode Juli 2019 mengalami inflasi sebesar 1,18% dengan IHK 139,31. Angka 1,18% tersebut didapat dari menghitung perubahan IHK bulan Juni 2019 yang mencapai 137,69. Secara indeks, harga yang dikeluarkan konsumen di Kota Bau-Bau pada bulan Juli 2019 lebih tinggi 1,18% dibandingkan harga yang dikeluarkan konsumen pada Juni 2019.

Inflasi yang terjadi di Kota Baubau disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 4,95%; kelompok sandang 0,91%; kelompok sandang 0,91%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02%; serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,02%. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami penurunan indeks  sebesar 0,15%; transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks sebesar 0,83%. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar tidak mengalami perubahan nilai indeks harga konsumen.

Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah cakalang/sisik,  kacang panjang, cumi-cumi, baronang, katamba, bubara, layang/benggol, bayam, kangkung, emas perhiasan. Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi adalah sama dengan Kota Kendari tarif tiket angkutan udara yang mengalami penurunan menyebabkan angkutan udara berkontribusi pada deflasi Kota Bau-Bau, kemudian diikuti oleh kembung/gembung /banyar/gembolo/aso-aso, bandeng/bolu, bawang merah, minyak goreng, apel, kopi bubuk, tomat sayur, udang basah, biskuit.

Tingkat inflasi Kota Baubau tahun kalender (Januari-Juli 2019) 1,98% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2019 terhadap Juli 2018) 0,80%. Tingkat inflasi periode yang sama Juli 2018 tercatat 1,20%, tahun kalender (Januari-Juli 2018) sebesar 4,11% dan tingkat inflasi tahun ke tahun untuk Juli 2018 terhadap Juli 2017 tercatat 2,50%.

Perbedaan pola konsumsi antara masyarakat Kota Kendari dan Kota Bau-Bau menjadi salah satu alasan berbedanya perkembangan IHK antara kedua kota tersebut. Terlihat IHK Kota Bau-Bau lebih tinggi dibandingkan IHK Kota Kendari, masing-masing sebesar 139,31 dan 135,03 pada Juli 2019. 

Selain digunakan untuk penghitungan inflasi maupun deflasi. IHK juga bisa digunakan untuk melihat kemudahan akses terhadap barang atau jasa  pada suatu tempat. Semakin besar IHK, kemungkinan besar rantai distribusi barang atau jasa akan semakin panjang. Dikarenakan ada harga yang perlu dibayarkan untuk mencapai konsumen akhir berupa Margin Pengangkutan dan Perdagangan atau biasa disebut dengan MPP.

Komentar